Selasa, 25 Oktober 2016

Media BK



MEDIA BK
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok dalam mata kuliah Media BK yang diampu oleh : Abdul Basith,M.Pd.

Disusun Oleh :
Siska Pebrianti                                NIM : 11308501150016
Sri Mulyani                                     NIM : 11308501150017
Wiwit Hayu Ningrum                     NIM : 11308501150021




PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
( STKIP ) SINGKAWANG
TAHUN 2016


KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala Kasih dan juga Rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu bahan penunjang materi pembelajaran mata kuliah “Media BK”. Melalui makalah ini kami mencoba memberikan penjelasan mengenai “Media BK”. Terima kasih kepada Bapak Abdul Basith, M.Pd, sebagai Dosen Mata Kuliah ini.
Kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Karena keterbatasan pengetahuan kami, makalah yang kami susun ini belum lah sempurna. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dalam rangka penyempurnaan untuk pembuatan makalah selanjutnya. 


           Singkawang, September  2016


                                                                                                     Penyusun






BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Bimbingan konseling merupakan pelajaran yang sama pentingnya dengan pelajaran lain sehingga keberadaannya disekolah sangat dibutuhkan. Dalam pelajaran ini juga dibutuhkan media pendukung pembelajaran. Dengan mengetahui dan mempelajari media-media yang dibutuhkan disekolah maka kita dapat mengetahui kebutuhan-kebutuahn media apa saja yang diperlukan guru dan siswa.
Penulis mencoba menjabarkan apa definisi media dalam bimbingan dan konseling, manfaat penggunaan media tersebut, dan mengidentifikasikan kebutuhan dilapangan baik dari siswa maupun dari program bimbingan dan konseling. Dengan ini kami mengobservasi salah satu SMP yang ada dikota singkawang yaitu SMPN 7 Singkawang. Untuk mengetahinya akan dijelaskan di bab selanjutnya.
  1. Rumusan Masalah
1.      Apa definisi dari media dalam bimbingan dan konseling?
2.      Apa manfaat penggunaan media dalam kegiatan bimbingan dan konseling?
3.      apa saja macam-macam media dalam bimbingan dan konseling?
4.      Apa urgensi penggembangan media dalam bimbingan dan konseling?
  1. Tujuan Penulisan
1.      Untuk mngetahui definisi dari media dalam bimbingan dan konseling.
2.      Untuk mngetahui manfaat penggunaan media dalam kegiatan bimbingan dan konseling.
3.      Untuk mngetahui macam-macam media dalam bimbingan dan konseling.
4.      Untuk mngetahui urgensi penggembangan media dalam bimbingan dan konseling.

BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Definisi Media dalam Bimbingan dan Konseling
Menurut Yuliani Nurani Sujiono (2005) Media adalah:” segala sesuatu yang dapat dipakai atau dimanfaatkan untuk merangsang daya pikir, perasaan, perhatian dan kemampuan anak sehingga ia mampu mendorong terjadinya proses belajar mengajar pada anak”. Pengertian media menurut Masitoh, dkk (2006). adalah :” peralatan yang dapat mendukung anak secara komprehensip yang meliputi perkembangan fisik, motorik, sosial, emosi, kognitif, kreatifitas dan bahasa”. Sementara itu Badru Zaman (2005) mendifinisikan media:“ sebagai wahana dari pesan yang oleh sumber pesan (guru) ingin diteruskan kepada penerima pesan (anak)”.
Pengertian media dalam bimbingan konseling sebagai hal yang digunakan menjadi perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan program BK. Namun dalam perkembanganya Media BK tidak sebatas untuk perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan program BK tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu segala alat bantu yang dapat digunakan dalam melaksanakan program BK (Diklat profesi guru, PSG Rayon 15, 2008). misalnya konselor ketika melaksanakan konseling individu memerlukan ruang konseling, meja kursi, alat perekam/pencatat. ketika konselor pada akhir minggu/bulan/semester/tahun akan melaporkan kegiatan kepada Kepala Sekolah memerlukan media.
Sebagaimana dituliskan Deviarimariani pada situsnya Penerapan Teknologi Informasi Konseling, Gagne menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Lebih lanjut, Briggs menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Definisi tersebut mengarahkan kita untuk menarik suatu simpulan bahwa media adalah segala jenis (benda) perantara yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada orang yang membutuhkan informasi.
B.     Manfaat Penggunaan Media dalam Kegiatan Bimbingan dan Konseling
Pada zaman sekarang tekhnologi sudah semakin berkembang,dan saat ini kita seperti hidup dalam dunia teknologi. Hampir seluruh aktivitas tergantung pada canggihnya teknologi pada saat ini ,terutama teknologi komunikasi. Konseling sebagai usaha bantuan kepada siswa, saat ini telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat cepat. Perubahan ini dapat ditemukan pada bagaimana teori-teori konseling muncul sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau bagaimana media teknologi bersinggungan dengan konseling. Media dalam konseling antara lain adalah komputer dan perangkat audio visual.
Komputer merupakan salah satu media yang dapat dipergunakan oleh konselor dalam proses konseling. Pelling (2002) menyatakan bahwa penggunaan komputer (internet) dapat dipergunakan untuk membantu siswa dalam proses pilihan karir sampai pada tahap pengambilan keputusan pilihan karir. Hal ini sangat memungkinkan, karena dengan membuka internet, maka siswa akan dapat melihat banyak informasi atau data yang dibutuhkan untuk menentukan pilihan studi lanjut atau pilihan karirnya.
Data-data yang didapat melalui internet, dapat dianggap sebagai data yang dapat dipertanggungjawabkan dan masuk akal (Pelling 2002;). Data atau informasi yang didapat melalui internet adalah data-data yang sudah memiliki tingkat validitas tinggi. Hal ini sangat beralasan, karena data yang ada di internet dapat dibaca oleh semua orang di muka bumi.
Sebagai contoh, saat ini dapat kita lihat di internet tentang profil sebuah perguruan tinggi. Bahkan, informasi yang didapat tidak sebatas pada perguruan tinggi saja, tetapi bisa sampai masing-masing program studi dan bahkan sampai pada kurikulum yang dipergunakan oleh masing-masing program studi. Data-data yang didapat oleh siswa pada akhirnya menjadi suatu dasar pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tentu saja, pendampingan konselor sekolah dalam hal ini sangat diperlukan.
Sampsons (2000) mengungkapkan bahwa fasilitas di internet dapat dapat dipergunakan untuk melakukan testing bagi siswa. Tentu saja hal ini harus didasari pada kebutuhan siswa.
Penggunaan komputer di kelas sebagai media bimbingan dan konseling akan memiliki beberapa keuntungan seperti yang dinyatakan oleh Baggerly sebagai berikut:
1.      Akan meningkatkan kreativitas, meningkatkan keingintahuan dan memberikan variasi pengajaran, sehingga kelas akan menjadi lebih menarik.
2.      Akan meningkatkan kunjungan ke web site, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan siswa.
3.      Konselor akan memiliki pandangan yang baik dan bijaksana terhadap materi yang diberikan.
4.      Akan memunculkan respon yang positif terhadap penggunaan email.
5.      Tidak akan memunculkan kebosanan.
6.      Dapat ditemukan silabus, kurikulum dan lain sebagainya melalui website.
7.      Terdapat pengaturan yang baik.
Selain penggunaan internet seperti yang telah diuraikan di atas, dapat dipergunakan pula software seperti microsoft power point. Software ini dapat membantu konselor dalam menyambaikan bahan bimbingan secara lebih interaktif. Konselor dituntut untuk dapat menyajikan bahan layanan dengan mempergunakan imajinasinya agar bahan layanannya tidak membosankan. Program software power point memberikan kesempatan bagi konselor untuk memberikan sentuhan-sentuhan seni dalam bahan layanan informasi. Melalui program ini, yang ditayangkan tidak saja berupa tulisan-tulisan yang mungkin sangat membosankan, tetapi dapat juga ditampilkan gambar-gambar dan suara-suara yang menarik yang tersedia dalam program power point. Melalui fasilitas ini, konselor dapat pula memasukkan gambar-gambar di luar fasilitas power point, sehingga sasaran yang akan dicapai menjadi lebih optimal.
Gambar-gambar yang disajikan melalui program power point tidak statis seperti yang terdapat pada Over Head Projector (OHP). Konselor dapat memasukkan gambar-gambar yang bergerak, bahkan konselor bisa melakukan insert gambar-gambar yang ada di sebuah film.
Media lain yang dapat dipergunakan dalam proses bimbingan dan konseling di kelas antara lain adalah VCD/DVD player. Peralatan ini seringkali dipergunakan oleh konselor untuk menunjukkan perilaku-perilaku tertentu. Perilaku-perilaku yang tampak pada tayangan tersebut dipergunakan oleh konselor untuk merubah perilaku klien yang tidak diinginkan (Alssid & Hitchinson, 1977; Ivey, 1971, dalam Baggerly 2002). Dalam proses pendidikan konselor pun, penggunaan video modeling ini juga dipergunakan untuk meningkatkan keterampilan dan prinsip konseling yang akan dikembangkan bagi calon konselor (Koch & Dollarhide, 2000, dalam Baggerly, 2002).
Sebelum VCD/DVD player ini ditayangkan, seorang konselor sebaiknya memberikan arahan terlebih dahulu kepada siswa tentang alasan ditayangkannya sebuah film. Hal ini sangat penting, sebab dengan memiliki gambaran dan tujuan film tersebut ditayangkan, maka siswa akan memiliki kerangka berpikir yang sama. Setelah film selesai ditayangkan, maka konselor meminta siswa untuk memberikan tanggapan terhadap apa yang telah mereka lihat. Tanggapan-tanggapan ini pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana klien berpikir dan bersikap, yang kemudian diharapkan akan dapat merubah perilaku klien atau siswa.
Kelebihan lainnya dalam pemberian layanan Bimbingan dan Konseling dengan menggunakan media internet adalah dapat melintasi jarak dan waktu; serta klien dapat mengakses data yang dibutuhkan dengan cepat.


C.     Macam-macam Media dalam Bimbingan dan Konseling
Ada beberapa jenis media dalam program BK yaitu:
1.      Media untuk menyampaikan informasi
2.      Media sebagai alat ( pengumpul data dan penyimpan data)
3.       Media sebagai alat bantu dalam memberikan group information
4.      Media sebagai Biblioterapi
5.      Media sebagai alat menyampaikan laporan
Berikut merupakan beberapa contoh media diantara adalah :
1.      Media untuk menyampaikan informasi : Selebaran, leaflet, booklet, dan papan bimbingan.
2.      Media sebagai alat ( pengumpul data dan penyimpan data)
a.       Media Pengumpul data seperti: angket, pedoman wawancara, lembaran observasi berupa anekdo record, daftar cek, skala penilaian, mekanikal device, camera, tape, daftar cek masalah,  lembar isian pilihan teman (semua dapat dibuat sendiri kecuali mekanikal device, camera, tape).
b.      Media penyimpan data seperti: kartu pribadi, buku pribadi, map, disket, folder, filing cabinet, almari, rak dll.\
3.      Media sebagai alat bantu dalam memberikan group information.
a.       Media auditif                : radio, tape
b.      Media visual                 : gambar, foto, tranparansi, lukisan, dll
c.       Media audio visual       : film yang ada suaranya.
4.      Media sebagai Biblioterapi. Buku-buku, majalah, komik (yang penting di dalamnya berisi cara-cara atau tips) misalnya cara beternak ayam, cara cepat membaca Alquran, cara mengatasi rendah diri, cara meningkatkan motivasi belajar, dan beberapa buku yang berisi cara-cara atau tips lainnya.
5.      Media sebagai alat menyampaikan laporan. Berupa laporan kegiatan BK. Laporan bisa mingguan, bulanan, semesteran dan tahunan.
Dengan demikian Media BK dapat berperan di dalam pelaksanaan kegiatan program layanan bimbingan dan konseling sebagai alat bantu dalam melaksanakan  berbagai kegiatan bimbingan dan juga kegiatan konseling individu maupun konseling kelompok.
Media bimbingan dan konseling dalam penggunaannya harus relevan dengan tujuan layanan dan isi layanan. Hal ini mengandung makna bahwa penggunaan media dalam layanan bimbingan dan konseling harus melihat kepada tujuan  penggunaannya dan memiliki nilai  dalam mengoptimalkan layanan yang diberikan kepada siswa. Oleh karena itu  dengan penggunaan media dalam layanan bimbingan dan konseling berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses layanan bimbingan dan konseling.
D.    Urgensi pengembangan media dalam bimbingan dan konseling
Teknologi informasi dan komunikasi merupakan elemen penting dalam kehidupan, peran teknologi informasi pada aktivitas manusia pada saat ini memang begitu besar. Teknologi informasi telah menjadi fasilitas bagi kegiatan berbagai sektor kehidupan, dan telah menyentuh layanan bimbingan dan konseling. Teknologi informasi dalam layanan bimbingan dan konseling masuk kepada dukungan system bimbingan dan konseeling sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu (siswa), dilaksanakan melalui berbagai macam layanan.Layanan tersebut saat ini, pada saat jaman semakin berkembang, tidak hanya dapat dilakukan dengan tatap muka secara langsung, tapi juga bisa dengan memanfaatkan media atau teknologi informasi yang ada. Tujuannya adalah tetap memberikan bimbingan dan konseling dengan cara-cara yang lebih menarik,interaktif, dan tidak terbatas tempat, tetapi juga tetap memperhatikan azas-azas dan kode etik dalam bimbingan dan konseling.
Urgensi bimbingan dan konseling mengacu pada perkembangan serta kemajuan teknologi yang mutakhir, salah satunya ialah penggunaan alat atau media komunikasi serta informasi elektronik baik secara online maupun offline. Penggunaan media teknologi yang mutakhir akan senantiasa merubah gaya serta penerapan bimbingan dan konseling yang konvensional. Sebagaimana tujuan dari kemajuan teknologi yaitu untuk mengefisienkan atau mempermudah akses informasi, maka penerapannya dalam bimbingan dan konseling juga mengacu pada cara yang sama tanpa mengubah konteks dari bimbingan dan konseling tersebut.
Alat-alat atau media dalam akses informasi di era global ini sangat beragam dan mutakhir, seperti telepon selular, komputer, internet dan media lainnya yang langsung atau online ataupun yang tidak langsung atau offline. Maka semua media teknologi informasi tersebut akan mempermudah akses pemberian bantuan terhadap individu jika dimanfaatkan secara tepat guna dan terlatih. Oleh karena itu, profesional di bidang bimbingan dan konseling yang selanjutnya disebut dengan konselor, dituntut untuk dapat menggunakan serta terlatih dalam penggunaan dan penerapan konseling melalui media teknologi.
Sebagaimana upaya bimbingan dan konseling yaitu memfasilitasi konseli, maka penggunaan teknologi informasi atau media elektronik penunjang proses konseling akan sangat dibutuhkan agar konseli dapat memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling secara efisien serta tidak terkesan ketinggalan zaman. Jika layanan bimbingan konseling masih menerapkan cara-cara konvensional dalam era teknologi yang semakin maju, maka layanan tersebut akan ditinggalkan oleh konseli yang akan mengakibatkan degradasi moral serta ketidakmampuan konseli dalam memecahkan serta mengoptimalkan tugas perkembangan yang harus dilaluinya secara mandiri. Maka jika hal tersebut terjadi, akan banyak individu yang mengalami kesulitan dalam pemahaman diri dan akan cenderung masuk ke dalam zona kebebasan yang kebablasan tanpa adanya bimbingan yang bersifat mengembangkan kepribadian yang sehat.
Maka dari hal tersebut, penerapan atau pemanfaatan teknologi informasi dalam bimbingan dan konseling menjadi suatu urgensi tersendiri dalam penyesuaian kondisi zaman atau era yang sangat global. Salah satu yang menjadi pertimbangan perlunya bimbingan dan konseling menyesuaikan terhadap era yang global serta serba teknologi tersebut, yaitu pertimbangan dampak dari era globalisasi itu sendiri. Seperti diketahui, bahwa kemajuan teknologi informasi yang tidak dimanfaatkan secara tepat akan memicu timbulnya dampak negatif dari penggunaan teknologi informasi tersebut. Maraknya penyalahgunaan teknologi informasi salah satunya internet yaitu beredarnya pornografi yang tanpa batas atau tayangan tayangan kekerasan yang tidak pantas untuk disaksikan terutama oleh para remaja dan anak-anak. Ketika hal tersebut kian marak karena terlalu bebasnya akses informasi tanpa ada bimbingan, maka akan merusak generasi muda juga akan muncul degradasi mental remaja dari dampak tersebut. Oleh karena itu, dalam hal inilah bimbingan dan konseling berperan sebagai pembimbing untuk mencegah hal tersebut. Tindakan preventif melalui kegiatan bimbingan dan konseling terhadap para remaja dalam hal penyalahgunaan teknologi informasi, akan menjadi suatu batasan internal terhadap remaja menghadapi kebebasan tanpa batas di dunia maya. Maka dari itulah layanan bimbingan dan konseling yang menyesuaikan dengan kondisi zaman yang mutakhir dan global, menjadi sangat penting dan diperlukan dalam membangun kualitas kehidupan generasi muda yang terhindar dari dampak negatif arus informasi yang tak berbatas.













BAB  III
PEMBAHASAN

A.    Analisis Teoris
Dengan bermacam teori yang ada didalam pembahasan kami sependapat dengan Yuliani Nurani Sujiono (2005) yang menyatakan bahwa  Media adalah:” segala sesuatu yang dapat dipakai atau dimanfaatkan untuk merangsang daya pikir, perasaan, perhatian dan kemampuan anak sehingga ia mampu mendorong terjadinya proses belajar mengajar pada anak”. Jadi dengan adanya media dapat mempermudah proses pembelajaran dan menarik minat siswa untuk belajar. Contohnya disekolah disediakan komputer dan jaringan internet sehingga dapat merangsang minat siswa untuk mencari informasi dan pengetahuan yang lebih luas. Dan bagi guru BK dapat lebih kreatif dalam mencari materi yang menarik untuk disampaikan kepada siswa.
Seharusnya pemerintah hendaknya memfasilitasi setiap sekolah dengan peralatan penunjang berlangsungnya proses pembelajaran BK. Namun masih ditemukan sebagian sekolah-sekolah yang kekurangan media pendukung pembelajaran BK, sehingga dalam penyampaian materi guru BK terkesan monoton.

B.     Analisis Praktis
Analisi praktis merupakan sebuah penerapan teori dilapangan. Dari sekian banyak sekolah salah satu yang kami observasi adalah SMPN 7 Singkawang, disana kami menemukan media-media BK yang digunakan dalam proses pembelajaran dan konseling, diantaranya komputer, proyektor, brosur, buku bacaan tentang konseling, poster, mading.
Di SMPN 7 Singkawang untuk penerapan media BK sudah cukup terpenuhi, walaupun masih ada kekurangan media-media pendukung. Ini dikarenakan anggaran yang kurang untuk pemenuhan semua media yang dibutuhkan. Meskipun terdapat  keterbatasan media pendukung namun para guru BK yang terdiri 4 orang ini menyikapinya dengan sekreatif mungkin.



LAPORAN HASIL OBSERVASI

Nama Guru BK    : Nely Seprianti,S.Pd
Lokasi Observasi : SMPN 7 Singkawang
Hal                      : Wawancara mengenai media bk yang dibutuhkan siswa dan guru disekolah

Setelah melakukan wawancara terhadap guru Bk di SMPN 7 Singkawang mengenai media bk , telah diketahui terdapat beberapa media yang digunakan diantaranya : media yang digunakan didalam kelas yaitu infocus,laptop dan power point sedangkan media yang digunakan didalam ruangan Bk yaitu mading, buku, dan brosur. Selanjutnya dengan telah diketahuinya apa saja media yang terdapat disekolah tersebut ternyata menurut guru Bk masih terdapat media yang kurang terpenuhi salah satunya infocus , menurut pengakuan beliau ini menjadi salah satu penghambat dalam memberikan layanan kepada siswa dikelas karena tidak semua kelas memiliki proyektor , jadi penggunaannya harus bergantian. Untuk media yang diperlukan siswa itu tergantung pada gurunya , karena guru sebagai fasilitator . Dan guru dituntut untuk lebih kreatif dalam pemberian layanan dengan fasilitas seadanya. Disekolah tersebut terdapat kurang lebih 700 siswa dan 4 guru BK. Menurut koordinator BK 4 guru Bk cukup menangani semua siswa disekolah tersebut. Ketika ditanya adakah kesulitan yang didapat saat menangani semua siswa , menurut beliau “ Mau tidak mau harus dijalani, dan disikapi agar semua siswa mendapatkan layanan”.
            Dan setelah diamati pada ruangan BK cukup memenuhi syarat ideal karena memiliki ruang konseling, bimbingan kelompok, ruang kerja dan ruang tamu yang terpisah dan cukup nyaman saat melakukan proses konseling. Pada awalnya disekolah tersebut memiliki 2 jam masuk kelas setiap minggu, dengan diterapkannya K13 maka jam masuk berkurang menjadi 1 jam pelajaran karena dibagi dengan pelajaran TIK dimana pelajaran ini dianggap setara dibidang layanan.


Lampiran

BAB  IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pengertian media dalam bimbingan konseling sebagai hal yang digunakan menjadi perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan program BK. Namun dalam perkembanganya Media BK tidak sebatas untuk perantara atau pengantar ketika guru BK (konselor) melaksanakan program BK tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu segala alat bantu yang dapat digunakan dalam melaksanakan program BK.


DAFTAR PUSTAKA


Alssid & Hitchinson, 1977; Ivey, 1971, dalam Baggerly 2002
Koch & Dollarhide, 2000, dalam Baggerly, 2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar